O’ Me!

Jangan mundur, berjalanlah lagi. Majulah, bergerak!

Jangan menunda, bergiatlah kembali. Berjuanglah dengan rajin.

Jangan lupa, kesempatan ini tidak akan datang untuk kedua kali. Karena ia hanya untuk sekali-kalinya. Pertama dan terakhir.

O’ Me! I Believe You as mine.

πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚

Noted

Oia! Aku keingatan akhirnya. Ya, bagaimana kalau untuk update dua lembaran catatan, aku mengirim langsung ke dua secret e-mail saja yaa. Hmmn… menarik juga. Dan ini berarti bahwa secara otomatis, lembaran catatanku akan tidak ada yang tertinggalkan. Baiklah. Untuk saat ini aku akan melakukan test. Ya, tepat setelah catatan singkat kali ini terhadirkan, maka aku akan mempostingnya. Semoga sukses, aamin. Syaalalaaa.. Ha!

< Setelah melakukan percobaan, ternyata ngirim email hanya boleh ke satu secret e-mail dan ga boleh sekaligus tertuju ke dua secret e-mail yang berbeda >

***

Kalau saja langkah ini sukses, maka ke depannya, aku memang betul-betul sangat membutuhkan sarana untuk merangkai catatan yang dapat ku bawa ke mana saja. Dan tentu saja, tidak perlu log in pada halaman dashboard wordpress maka aku dapat mengabadikan ingatan yang hadir pada waktu dan di tempat apa saja. Ya, ya, ini sungguh aku suka. Dan sudah lama memang, aku mengidamkan seperti begini. Oh… Dengan begini, tentu aku akan menjadi lebih bahagia. Ha!

Tidak mudah memang, untuk menggapai apa yang kita cita. Namun, kalau kita berjuang dan berusaha untuk merengkuhnya walaupun pernah terletih dalam lelah, insyaAllah tercapai juga. So, usahlah hiraukan lagi keringat yang membanjir membasahi raga, ketika kita melangkah di bawah siraman terik mentari. Namun, jalani semua itu dengan sepenuh hati dan sebaik-baiknya. yHa!

Hingga sampai pada paragraf yang ke empat ini, aku menjadi teringatkan pada beliau-beliau yang akhir-akhir ini aku temui. Beliau, siapakah beliau? Kiranya aku tidak dapat menyebutkan satu persatu, karena itu tidak perlu. Namun, yang perlu aku ingat adalah, satu hal, yaitu: ketika aku sedang berhadapan dengan sesiapa saja, maka aku perlu mengalihkan perhatianku dari sarana komunikasi atau boleh saja catatan yang sedang aku rangkai. Karena aku perlu memberikan perhatian pada sesiapa yang sedang berhadapan denganku. Sebab jika tidak begitu, aku ragu, akan ada selembar senyuman tanpa makna dari wajah yang sebenarnya sedang ingin berkomunikasi denganku berhadap-hadapan. Namun ternyata aku malah memfokuskan tatap pada sebuah alat komunikasi yang ada di hadapanku. Dan aku ternyata sedang berkomunikasi pula dengan entah siapa, di sana. Ha!

Alhamdulillah… lega rasanya, ketika akhirnya aku pun mengurai sebait pesan yang pernah mempengalamankanku, pada suatu masa. Ketika aku merasa, ya hanya merasa, bahwa kehadiranku ternyata tidak terlalu penting adanya. Karena beliau yang aku temui, malah sedang berkutat dengan alat komunikasi yang sedang berada di dalam genggaman. Haha..!

Tidak ada yang boleh merasa sedang aku bahas, di sini. Namun yang boleh adalah kembali introspeksi diri. Ya, bertanyalah pada diri sendiri, apakah benar saya demikian adanya? Bagaimanakah perasaan saya, ketika perlakukan yang sama, saya alami pula? Sungguh, demikian pula kiranya, dengan apa yang orang lain alami. Hmm…

Sedikit ada rasa yang tidak biasa, aku rasakan. Ketika aku berhadapan dengan seorang yang aku pentingkan. Namun kehadiranku malah seperti tidak terlalu penting bagi beliau. Maka, segera aku mengalihkan perhatian dari beliau, kemudian berlalu. Dan aku pun melanjutkan aktivitasku yang berikutnya, saja. Karena, itu, ada satu pesan, kesan, atau apa namanya ya, hmmm… oh, pelampiasan rasa aja kali ya, namanya. Ya, karena aku merasa, tidak semestinya beliau memperlakukanku demikian. Karena kehadiranku menemui beliau, adalah untuk keperluan kami juga.

Aku tidak melarang, ketika ada yang sedang berkomunikasi dengan oranglain selain aku. Namun, alangkah baiknya, kalau kita sedang bertemu langsung dengan orang lain yang menemui kita, maka kita menyambutnya dengan tatapan mata yang berbinar. Sungguh, akan kembali pantulan binar itu menerangi ruang pikir kita, bukan? Inginkan bukti? Coba saja, aplikasikan dengan sendiri. InsyaAllah tidak percuma.

Dan pengalaman ini, pun aku alami sore ini. Pengalaman tentang seorang yang menyambut kehadiranku dengan baik. Karena, memang kebetulan beliau sedang tidak berkomunikasi dengan sesiapa. Sehingga hanya fokus denganku. Maka dalam kondisi demikian, aku merasa senang aja. Ha.

Baru saja, aku kembali dari rumah Bapak RT, yang lokasinya beberapa rumah saja dari tempatku tinggal. Dan beliau menyambut kehadiranku dengan antusias. Selalu begitu. Tidak banyak yang berubah, dari beliau. Baik ketika pertama kali aku menjumpa beliau, saat kami belum berkenalan, maupun saat sudah berkali-kali aku menemui beliau untuk berbagai keperluan penting. Dan aku bahagia, karena beliau tidak terlihat bersibuk-sibuk, namun menghargai kedatangan aku sebagai tamu.

Aku cukup tahu diri, kalau memang kehadiranku bukan pada saat yang tepat. Dan ternyata ada diantara beliau-beliau yang ku temui, ternyata sedang sibuk. Maka, ku berikan waktu untuk beliau, melanjutkan kesibukan tersebut. Namun, kalaulah tidak terlalu penting, ada baiknya kita melebarkan posisi jemari, dan membukanya. Lalu meletakkan apa saja yang sedang dipegangnya, termasuk alat komunikasi, kalau ada yang sedang ingin banget, berkomunikasi dengan kita secara langsung. Itu saja.

"SESUNGGUHNYA PESAN INI ADALAH UNTUK DIRIKU, AGAR AKU TERINGATKAN."

Terima kasih, teman, engkau telah sudi memahamiku. Karena memang begini adanya aku. Dan aku sangat senang memahamimu yang sedang asyik di sana. Lain kali, aku menemuimu lagi, semoga engkau pun ingat dengan catatanku ini. Kapanpun.

πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚

Lanjuuut

Cuaca hari ini sama dengan ketika awal kita berjumpa dulu, mendung.

Saat itu, aku sedang duduk sendiri, di bawah sebatang pohon. Pohonnya yang rindang menambah kesejukan yang aku rasakan ketika itu. Ditambah lagi, sepoi angin yang bersemilir sungguh mendamaikan. Mereka semua, membuat aku seakan berada di alam yang antah barantah. Aku sedang terpesona, aku paling dan sungguh tidak percaya sama sekali dengan suasana yang aku alami. Dan tiba-tiba, engkau pun datang menghampiriku.

Engkau sendiri, aku pun begitu.

Engkau, siapakah engkau?

Belum sempat ku bertanya tentang dirimu, karena aku bertambah-tambah terpesona denganmu. Engkau yang berperawakan tidak terlalu jangkung, tidak juga mini. Engkau sedang-sedang saja, normal fisikmu.

Sekilas ku melihat dari sudut mataku, engkau sedang tersenyum saat pertama kali menemuiku. Aku pun mengucek kedua mataku, lalu mengedipkannya pelan-pelan. Beberapa kali, kelopak mataku bergerak rutin. Ia pun mengajak wajahku untuk tersenyum padamu. Sehingga berbinarnya ia, membuat matamu berbinar pula. Ai! Aku suka, saat pertama kali bersua denganmu. Engkau yang penuh dengan cerita, seakan menceritakan padaku, tentang masa depan kita. Engkau adalah pribadi yang luarbiasa, namun di mataku, engkau bersahaja.

Best Regards,
~…My Surya…~

We are dealing with a situation that is not all IDEAL so we be a DYNAMIC personal
πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚

Kenalkan, Aku…

Dear My Blog,

Hari ini adalah hari pertama aku mengirim postingan kepadamu, dengan email. Dan tentu saja email ini adalah yang pertama. Alamat emailnya adalah, secret, tentu saja. Ya, karena kalau aku ngasih tau alamat email ini padamu, berarti engkau pun dapat mengirimkan postingan ke halaman ini, sama seperti aku. Namun, berhubung saat ini kita belum kenalan, maka kita kenalan dulu, yuuks? Agar pada suatu kesempatan terbaik, kita dapat saling tuker-tukeran kirim postingan, gimana? Oia, engkau punya catatan online juga kan? Apakah engkau punya alamat secret juga? Yang mana, dengan mengirimkan catatan ke alamat email tersebut, maka secara otomatis, engkau sedang memposting blogmu.

Oia, di awal perkenalan ini, aku ingin memperkenalkan diriku terlebih dahulu. Namaku Marya. Dan aku punya nama pena My Surya. Oia, sebelumnya, aku juga pernah nulis blog di sini http://maryasuryani.wordpress.com Nah, alamat tersebut, aku ambil dari nama panjangku yang mestinya terdiri dari dua kata. Namun, karena tidak ada spasi saat penulisan, makanya ia bersatu menjadi seperti demikian. Hehee. Ga apa-apa lah yaa. Karena dalam episode menulis di blogku yang sebelumnya itu, aku ingin eksis dikiit. Namun kini, aku ingin berbenah lagi. Karena semenjak beberapa waktu terakhir, aku menyadari bahwa ada yang tidak beres pada hatiku. Hatiku yang satu. Dan kini, ia tidak lagi sempurna.

Nah, aku ingin sampaikan padamu pula, bahwa ketidaksempurnaan itulah yang membawaku ke sini. Agar aku dapat belajar banyak hal baru bersama engkau. Karena dalam yakinku, engkau dapat menjadi jalan bagiku untuk meraih harapan, cita dan asaku menuju kesempurnaan. Mohon bantuannya yaa. Karena aku sangat ingin hidupku menjadi lebih bermakna dan bermanfaat, bagi diriku, dan bagi banyak bahkan lebih banyak orang lagi. Dan tentang harapan ku ini, aku belajar banyak dari Mentari.

Mentari, ya. Mentari. Tahukah engkau teman, siapakah mentari? Benar. Mentari adalah salah satu benda langit yang bersinar pada siang hari. Dan dari sinarnya tersebut, aku belajar banyak sekali. Karena lihat saja, dengan Cuma-Cuma, mentari bersinar tiada henti. Dan ia sangat baik, bukan? Oleh karena itu, karena aku sangat suka pada mentari, maka aku pun mempunyai motto hidup β€œMENTARI yang artinya – menata hati setiap hari.”

Aku menyukai mentari, dan aku mempunyai hati. Makanya, untuk dapat mengontrol rasa sukaku pada mentari, maka aku pun menata hatiku. Lagi pula, hatiku yang tidak lagi sempurna itu, telah tertitipkan juga beberapa bagiannya pada mentari. Dan hati yang aku titipkan itu, ingin ku agar ia terjaga di sana. Ah… haru rasanya, mengenangkan sekepinghatiku di sana. Namun, aku yakin, kalau aku baik-baik di sini, maka bagian dari hatiku di sana, pun demikian adanya. Oleh karena itu, mohon doanya yaa, agar kami kembali dapat berjumpa dan bersama.

Oh, aku baru ingat. Bahwa mentari di sini adalah perumpamaan saja. Karena yang aku maksudkan dengan Mentari itu adalah engkau, teman. Ya, engkau yang baru saat ini aku kenali, engkau yang telah lama aku kenali, pun engkau yang belum aku kenali. Dan ternyata engkau pun menjadi bagian dari hari-hari ku. Aku bahagia mengenalmu. Walaupun hanya melalui dunia maya, seperti ini.

And then, semoga kita masih dapat bersapa, bertukar suara, dan bertatap mata dalam kehidupan yang sesungguhnya, ya. Aamiin.

Oke, untuk saat ini, sekian dulu perkenalan dariku. Lama bercakap tentang aku saja, hingga aku belum sempat menanyakan namamu. Hehee. Who is your name, dear?

Selamat berjumpa, yaa… dalam pertemuan selanjutnya.

Salam Hangat,

-My Surya-

Inisiatif dari Sekeping Hati

Saya syahdu, kalau terharu. Haru terjadi, karena ada kesejukan yang mengenai sekeping hati. Lalu, ia pun berinisiatif untuk menyampaikan kesejukan tersebut melalui mata. Hingga, akan meneteslah airmata pelan-pelan. Munculnya bermula dari sudut mata, kemudian mengalir ke pipi. Hingga ia pun jatuh berderai. Hikz. Aku merasakan syahdu, karena aku pernah mengalami haru pada suatu episode dalam kehidupanku.

Lalu, pada episode yang lain, aku teringat pada beberapa pertanyaan:
Tahukah Engkau? Apakah yang dilakukan oleh seorang pemenang saat menjalani proses latihan sebelum pertandingan?

Tahukah Engkau? Berapa lama seorang ahli melakukan penelitian sebelumnya?
Tahukah Engkau? Bagaimana tanggapan pelatih terhadap seorang atlit yang sedang berlatih?
Tahukah Engkau? Siapa saja yang berkontribusi bersama pemenang, ahli, atlit, tersebut?

Dan pertanyaan demi pertanyaan tersebut, hadir untuk menjadi jalan yang mengingatkanku. Bahwa aku memang boleh terharu dalam episode demi episode kehidupan. Namun yang tidak boleh adalah, aku terlarut dalam haru yang berkepanjangan. Karena masih ada ekspresi berikutnya yang akan menjadi bagian dari episode kehidupanku. Oleh karena itu, segera ku hapus airmataku beberapa saat setelah ia mengurai ramai. Lalu, akupun tersenyum, lagi. Dan senyuman yang mengembang tersebut pun mensenyumi mataku yang semula berair deras. Ya, begitulah, aku.

Best Regards,
~…My Surya…~

We are dealing with a situation that is not all IDEAL so we be a DYNAMIC personal
πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚

Hari ini

Dalam hari ini terdapat jembatan menuju hari esok. Karena antara hari ini yang sedang kita jalani dan hari esok yang akan kita temui, terdapat bentang yang memisahkannya. Dan kita membutuhkan keseimbangan saat berada di atas jembatan tersebut. Keseimbangan tubuh, keseimbangan fikir, dan menyeimbangkan isi hati. Agar, ketika berada di atas jembatan yang sedang membentang, kita senantiasa dalam keadaan bugar.

Ada yang gamang, saat berada di atas jembatan yang tinggi. Karena ia takut terjatuh. Ada pula yang gamang berada di atas jembatan yang tinggi, karena memang ia takut pada ketinggian itu sendiri.

Oia, kalau boleh berkisah tentang jembatan dan ketinggian, maka aku ingin mengisahkannya saat ini. Boleh, yaa…?

Pernah pada suatu kesempatan, dalam hari ini yang aku jalani, pada masa lalu. Pada saat itu, aku berjalan-jalan pagi. Kira-kira pukul sembilan, aku sudah sampai di salah satu lokasi yang ada jembatan di sekitarnya. Di atas jembatan penyeberangan yang terdapat di depan masjid Al Ukhuwah, kalau aku ga salah. Ya, ya.

Walaupun masih pagi, namun lalu lintas kendaraan cukup ramai. Padahal hari itu adalah hari libur, lho. Nah, demi keamanan, maka aku pun memilih untuk menyeberang lewat jembatan penyeberangan. Karena aku ingin sampai di seberang jalan. Dan apa yang terjadi ketika aku sedang berada di atas jembatan tersebut? Aku tiba-tiba gamang. Ya, karena memang aku takut pada ketinggian.

Namun demikian, karena aku sangat ingin sampai di seberang, maka aku coba kalahkan kegamangan yang sedang melanda. Meskipun luasnya jembatan cukup untuk ku lalui, namun aku masih merasakan bahwa jembatan itu sempit bagiku. Dan aku sungguh tidak nyaman saat berada di atasnya. Untuk berpegangan pada sisi kiri dan kanan jembatan, aku pun tidak kuasa. Karena tepat di bagian bawah, kalau aku melihat ke jalan, ada banyak kendaraan. Maka, ku langkahkan saja kaki-kaki ini di bagian tengah jembatan. Walau sedikitnya ia bergetar dan tidak teguh berpijak. Karena aku jinjit-jinjit gitu. Hoho… terkenang pengalaman itu, membuatku tersenyum ragu. Apalagi, pada saat yang sama, aku sedang tidak bersama siapa-siapa. Ya, tidak ada penyeberang lain yang sedang melangkah di dekatku.

Aku mengumpulkan segala kekuatan. Aku mengerahkan keberanian yang tersisa. Aku berjuang untuk dapat sampai di seberang dengan secepat-cepatnya. Namun aku tidak sanggup berlari.

Akan berdiri lama, terdiam, untuk menepikan kegamangan dulu, baru aku melangkah? Tentu saja waktu yang tersia tidak akan kembali lagi, bukan? Maka, mengingat waktu, walaupun tidak terlalu terburu. Maka aku pun bergerak sedikit demi sedikit. Hingga akhirnya, sampai juga. Sampai dengan bahagia dan selamat, di ujung jembatan yang ternyata masih ada tangga menurun yang perlu aku lewati, untuk dapat sampai di bumi, lagi. Tempat aku terbiasa melanjutkan langkah-langkah kaki.

Adapun bahan pelajaran yang dapat ku petik dari kisah menyeberang di jembatan penyeberangan adalah tentang episode-episode dalam kehidupan. Maksudnya, tidak selamanya kita mengalami kegamangan dalam kehidupan. Kegamangan yang mungkin kita, aku dan engkau, pernah mengalaminya. Namun ia akan berlalu juga, saat kita berjuang dan berusaha melewatinya. Meskipun tetesan keringat jatuh satu persatu, walaupun bulir permata kehidupan (airmata) menetes, ia mengingatkan kita pada bening air yang penuh dengan kesejukan.

All of our life episode come to make us learning. Lalu, apakah yang dapat kita pelajari dari hari ini yang sedang kita jalani? Hari ini yang di dalamnya terdapat jembatan menuju hari esok. Hari esok yang menanti dengan senyuman.

πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚

Guru Kita Ada di mana-mana

Best

Good Mood

Hari ini, aku punya background blog yang baru. Yyees, gak asal bikin, juga ga terlalu resmi.Β  Intinya, ia ada karena semenjak tadi malam, aku belajar ilmu baru. CorelDraW. Yuhu, walaupun hanya dan baru bisa nempel-nempelin huruf-huruf dan gambar yang ada, namun, hasil yang manis itu, tentu punya arti.Β  Karena setiap gambar mempunyai cerita, kalau kita membacanya. Ya, begini.

Mari kita mulai dari bagian bawah terlebih dahulu, yuuk?.

IKAN

Ikan itu hidup di dalam air. Dan ikan memerlukan air, hampir di seluruh masa usianya. Karena bagi ikan, air adalah kebutuhan pokoknya. Sehingga berada di dalam air, adalah satu kebahagiaan tersendiri, bagi ikan. Namun demikian, ikan tidak mudah terpengaruh oleh jenis air yang mengelilinginya.Β  Seperti ikan di laut, misalnya. Walaupun lingkungannya asin, namun dapat kita membuktikan, bahwa tidaklah daging ikan yang berasal dari laut tersebut, terasa asin, bukan?

Intinya adalah, ikan itu makhluk yang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Namun ia dapat menjadi dirinya sendiri, walaupun di lingkungan mana ia tinggal. Dan belajarlah kita dari makhluk hidup sebangsa ikan ini, yang mampu menjadi dirinya sendiri.

Selanjutnya…

PERLENGKAPAN TULIS

Ketika memandang ke bagian kanan hingga ke atasnya, maka kita dapat menyaksikan beberapa peralatan tulis seperti clip, penggaris,Β  jarum yang ada topinya, dan gelang-gelang, aih… itu gelang apa ya? Then, lembaran kertas yang tidak sempurna rupanya. Berikutnya adalah sebatang pinsil.

Walaupun benda-benda itu tersebar di mana-mana dan tidak teratur adanya, namun ia sangat berarti. Karena masing-masing mempunyai fungsi tersendiri. Pinsil untuk menulis, sedangkan kertas sebagai sarana untuk menampung hasil tulisan. Lalu, pernak-pernik tadi, dapat berfungsi sebagai penjepit beberapa lembar kertas agar ia bersatu. Atau, dengan menggunakan jarum, kita dapat menempelkan kertas di atas selembar stereofoam, misalnya. Intinya, mereka semua berharga.

Begitu pula dengan kehidupan yang sedang kita jalani. Walau di manapun, dan kapanpun kita bertemu dengan sesiapa saja dan apapun itu. Yakinlah, bahwa mereka semua ada, karena bermakna. Walaupun kecil tampilannya, meskipun tidak terlihat oleh mata, misalnya, namun yakinlah, tidak ada yang dicipta sia-sia dan tanpa makna. Oleh karena itu, dapatlah kita belajar dan mengambil pelajaran dari apa saja, selagi kita mau. Dengan demikian, tiada hari yang kita lewatkan tanpa belajar.

Aaii, indahnya.

Setelah kita mengambil pelajaran dari apa saja yang kita lihat, maka merupakan salah satu kewajiban kita untuk merangkainya dalam barisan tulisan. Tulisan yang dapat menjadi jalan bagi kita untuk mengingat lagi hasil pelajaran yang pernah kita tuliskan. Ya, karena tidak selamanya kita dapat mengingat, bukan?

Ada waktunya kita terlupa pada bahan pelajaran. Ada masanya kita tidak teringat akan ia. Maka dengan adanya lembaran kertas yang berisi catatan kita, maka serta merta catatan-catatan tersebut dapat menjadi jalan yang mengembalikan ingatan kita lagi, saat ia terbang sejenak.

Menulislah dengan baik.Β  Agar apa yang kita tulis, dapat kita baca lagi.Β  Dan yang membacanya, tentu ‘mungkin‘ saja tidak lagi diri kita sendiri, namun orang lain juga. Yang mempunyai kesempatan untuk membacanya.

Pada saat menulis, tulislah yang berguna. Saat merangkai kata, rangkailah yang bermakna. Seperti halnya ketika kita berbicara bersama raga yang ada nyawanya, maka menulislah pula dengan sepenuh jiwa. Agar, segala yang kita tulis menjadi hidup dan bernyawa pula. Dengan kalimat ini, aku teringatkan pada salah seorang guru yang ku temui. Beliau pernah menulis kalimat, begini, β€œJika jiwa saja tak kau punya, kau hendak berbagi kepada dunia dengan apa?” (Fachmy Casofa). Kalaulah kita hendak berbagi dengan tulisan berguna, maka mempunyai jiwa saat merangkai tulisan adalah pesan beliau.

Dan kembali lagi ke sisi bawah, di atas ikan-ikan yang sedang berenang, maka kita akan berjumpa dengan beberapa huruf yang terangkai. Dan huruf demi huruf tersebut, tidak sebanyak jumlah abjad. Hanya beberapa saja, dan ia terpilih. Itu maknanya adalah, tentang orang-orang yang berada di dalam kehidupan kita. Ya, tidak semua hambanya, berada dekat dan selalu bersama kita. Namun hanya yang terpilih saja, yang menjadi bagian dari kehidupan kita.

Oleh karena itu, hargailah beliau yang dekat, pahamilah beliau yang sedang dekat, dan ingatlah yang sedang jauh. Karena keberadaan kita tidaklah sempurna, tanpa yang dekat dan yang jauh. Seperti abjad-abjad itu. Kalaulah saja hanya beberapa saja diantaranya yang kita pakai, maka kita tidak akan dapat merangkai barisan kalimat yang membentang hingga membentuk paragraf yang indah.

Ya, jikalah saja untuk merangkai kalimat, kita hanya boleh menggunakan abjad-abjad tertentu saja, sedangkan yang lainnya tidak? Betapa tidak bebasnya kita dalam mencipta paragraf, bukan?

So, walaupun hanya beberapa saja dari hamba-hamba-Nya yang berada di dekat kita saat ini, yakinlah bahwa yang lainnya pun sedang bersiap untuk menjadi bagian dari kehidupan kita. Ya, percayalah. Karena beliau ada untuk membuat kehidupan kita menjadi lebih sempurna. Hanya belum tiba waktunya. Makanya, sekarang beliau berada jauh di sana.

KEPINGAN HATI

 

Dan, hey…!? Teman… lihatlah beberapa lambang yang berada sangat dekat dengan huruf-huruf tersebut.Β  Sepotong lambang berbentuk hati. Dan keberadaannya berdekatan satu sama lainnya. Ini berarti, bahwa kepingan-kepingan tersebut adalah hati hati kita semua. Ya, ia yang tidak lagi sempurna, sesungguhnya telah dan sedang berpencar entah ke mana. Ada di antara kepingannya yang menempel di hati orang tua kita, maka kita senantiasa merindu beliau saat jauh dari tatapan mata. Ada pula kepingannya yang menempel pada hati sahabat kita, hingga kita pun teringatkan pada sahabat-sahabat yang sebelumnya begitu akrab dalam kebersamaan. Sedangkan kini, jauh pula dari raga kita.

Demikian pula dengan kepingan hati yang lainnya. Ia pun menempel pada hati sesiapa yang pernah kita sapa, pernah berjumpa, bertukar kata, berbarter bahasa. Dan berhati-hatilah saat kita menyadari, bahwa hati kita telah bertebaran di mana-mana dan pada siapa-siapa. Ya, dengan adanya hati yang saat ini dekat sangat dengan kita, usahalah untuk menatanya lagi. Agar ia tidak mudah sakit, ketika ada yang mencoleknya. Agar ia tidak mudah terbang membumbung tinggi, saat ada yang mengangkatnya. Agar ia tidak pula jatuh berderai di tanah, karena ada yang menghina padanya. Ya, jagalah hati kita yang sekeping itu, dengan baik. Agar ia pun bahagia membersamai kita.

And then… maju ke atas, kita akan berhadapan dengan seekor kucing.

KUCING.

Kucing itu, aku ibaratkan dengan Catchy. Catchy adalah seekor kucing manis yang doyan ngemil.Β  Xixii. Dan berada di dekat makanan, merupakan kebahagiaan baginya.Β  Seperti pula aku, yang dalam kesempatan merangkai catatan, perlu berdekatan dengan makanan-makanan ringan. Dan kesimpulannya adalah, aku danΒ CatchyΒ  sama. Kami sama-sama makhluk hidup.Β  Namun ada yang membedakan kami… ->???Β  Saat aku bergegas merengkuh makanan, ketika perutku lapar, maka apakah yang dapat aku lakukan, ketika pikirku pun kehausan? Maka dengan ilmulah ia akan tenteram. Lalu hatiku, ketika ia sedang alami hal yang sama pula. Maka dengan mengingat Allah.. hati menjadi tenteram.

“…Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)”

πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚